Pembangunan Pedesaan; Teori dan Konsep Empat Tokoh Pembangunan

 


Teuku Murdani, PhD
Dosen Prodi Pengembangan Masyarakat Islam
UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Pembangunan Pedesaana tau lebih dikenal Rural community development merupakan sebuah proses pemberdayaan masyarakat pedesaan untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan mereka melalui pemanfaatan sumber daya lokal, pengorganisasian, dan partisipasi aktif masyarakat. Kualitas hidup tidak hanya berfokus pada materi, tetapi juga pada pendidikan, kesehatan, dan keyakinan. Menurut Chambers (1983) Pembangunan pedesaan merupakan sebuah pendekatan pembangunan yang fokus pada peningkatan kapasitas masyarakat pedesaan untuk mengelola sumber daya dan mengatasi masalah pembangunan secara mandiri.

Ada beberapa tokoh dalam yang terlibat dalam menyusun teori pembanguna pedesaan seperti Rostow (1960) dengan “Teori Modernisasi” yang berfokus pada Pembangunan pedesaan sebagai proses transformasi dari tradisional ke modern. Frank (1967) dengan “Teori Ketergantungan” dimana dia menguraikan bahwa pembangunan pedesaan harus fokus pada mengurangi ketergantungan pada struktur ekonomi global. Kemudian ada juga “Teori Pemberdayaan” yang dikembangkan oleh Friedmann (1992) yang menfokuskan teorinya pada pembangunan pedesaan harus berbasis pada pemberdayaan masyarakat lokal.

Konsep dari Pembangunan pedesaan itu sendiri tiga komponen penting yaitu “Partisipasi Masyarakat” dimana keterlibatan aktif masyarakat dalam proses pembangunan. “Pemberdayaan”- setiap upaya Pembangunan pedesaan harus mengarah kepada peningkatan kapasitas masyarakat untuk mengelola sumber daya, dan mengembangkan konsep “Desa Mandiri” yakni desa yang mampu mengelola sumber daya dan mengatasi masalah pembangunan secara mandiri.

Tokoh-tokoh penyusun teori Pembangunan pedesaan

1. Robert Chambers adalah tokoh penting dalam studi pembangunan pedesaan. Teori Chambers yang paling terkenal sebagaimana diuraikan dalam bukumnya adalah "Rural Development: Putting the Last First" (1983). Dalam teorinya Chambers mengkritik pendekatan pembangunan pedesaan konvensional yang seringkali top-down, di mana para ahli dari luar datang dengan solusi tanpa melibatkan masyarakat lokal. Dia menekankan pentingnya mendengarkan suara masyarakat pedesaan ("putting the last first") masyarakat pedesaan lebih memahami masalah dan kebutuhan mereka sendiri. Disamping itu “Partisipasi aktif masyarakat” dalam Pembangunan pedesaan sangat penting karena pembangunan harus berbasis pada aspirasi dan kapasitas lokal. Chambers juga menyarankan untuk mengadopsi konsep “Pendekatan holistic” dimana sebuah proses pembangunan pedesaan tidak hanya soal pertanian, tapi juga infrastruktur, pendidikan, kesehatan, dll.


Konsep Dasar dari teori Chambers adalah “Reversal” yakni membalik pendekatan: dari "outsider" ke "insider" (masyarakat lokal). Kemudisn “Participatory Rural Appraisal (PRA)” melibatkan masyarakat dalam identifikasi masalah dan perencanaan.

Ilustrasi teori Chambers

2.    W.W. Rostow, merupakan seorang ekonom Amerika Serikat , dalam bukunya “The Stages of Economic Growth (1960)” mengusulkan teori pembangunan ekonomi yang membagi proses pembangunan menjadi 5 tahap:Tahap Tradisional (The Traditional Society)Ekonomi berbasis pertanian tradisional, teknologi sederhana, produktivitas rendah. Contoh: Masyarakat agraris di banyak negara berkembang dulu.Tahap Prasyarat Lepas Landas (The Preconditions for Take-off)Investasi infrastruktur (transportasi, pendidikan).Perubahan sosial & politik untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Contoh: Indonesia era 1950-an mulai bangun jalan, sekolah.

Tahap Lepas Landas (The Take-off)Industrialisasi mulai berkembang, investasi besar, pertumbuhan ekonomi cepat.Contoh: Korea Selatan 1960-an (ekspor manufaktur). Tahap Dorongan Menuju Kedewasaan (The Drive to Maturity)Ekonomi diversifikasi, teknologi maju, sektor industri dominan.Contoh: China sekarang (dari manufaktur ke teknologi). Tahap Konsumsi Tinggi (The Age of High Mass Consumption) Fokus pada konsumsi, layanan, dan kesejahteraan. Contoh: AS, Eropa Barat.

Ilustrasi teori W.W. Rostow di Indonesia

3. Andre Gunder Frank, ekonom Jerman-Argentina, dalam bukunya Dependency Theory (1967) mengkritik teori modernisasi Rostow. Frank berargumen bahwa kemiskinan negara-negara berkembang bukan karena keterbelakangan, tapi karena mereka tergantung pada negara-negara maju. Negara-negara pinggiran (periphery: Afrika, Asia, Amerika Latin) dieksploitasi oleh negara-negara pusat (AS, Eropa, Jepang). Sumber daya alam & tenaga kerja murah dieksploitasi - keuntungan mengalir ke negara maju. 

Ketergantungan ini membuat negara pinggiran sulit berkembang. Konsep kunci dari periphery - pusat (negara maju) vs Pinggiran (negara berkembang). Eksploitasi struktural - struktur ekonomi global dirancang untuk menguntungkan negara maju. Ketergantungan pada modal asing, teknologi, pasar ekspor.

Pada zaman kolonialisme - negara kolonial mengambil sumber daya dengan menjajah. Dewasa ini perusahaan multinasional (AS, China) menguasai tambang, sawit, dll di negara berkembang.

 

Ilustrasi teori Andre Gunder Frank Indonesia sebagai negara pinggiran

4.    John Friedmann, urbanis dan perencana Amerika, dalam bukunya “Empowerment Theory (1992)” mengembangkan teori pembangunan pedesaan yang menfokus pada pemberdayaan masyarakat miskin sebagai kunci pembangunan. Friedmann menekankan bahwa pembangunan harus berbasis pada kekuatan masyarakat lokal, bukan hanya pertumbuhan ekonomi makro. Masyarakat perlu akses pada sumber daya (tanah, modal, pengetahuan) untuk bangkit. 

Pembangunan harus inklusif - mengurangi ketimpangan, bukan memperburuk. Konsep utama dari Pemberdayaan (Empowerment) adalah meningkatkan kapasitas masyarakat untuk kendalikan hidup mereka. Membuka akses terhadap sumber daya seperti tanah, modal, teknologi, pendidikan. Partisipasi aktif masyarakat merupakan suatu keharusan dimana mereka harus menjadi aktor utama pembangunan. Pembangunan pedesaan harus menghargai pengetahuan lokal, bukan cuma impor teori Barat.

Penerapan dari teori Friedmann di Indonesia dapat dilihat di program PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat) - dana langsung ke desa, masyarakat tentukan proyek. Bina Swadaya - NGO bantu masyarakat kelola koperasi, irigasi. Urban Self-Help - warga pinggiran kota bangun rumah sendiri dengan bantuan pemerintah.

 

Ilustrasi teori John Friedmann pemberdayaan masyarakat desa di Indonesia

 

 Referensi:

Chambers, R. (1983). Rural Development: Putting the Last First. Longman.

Rostow, W. W. (1960). The Stages of Economic Growth: A Non-Communist Manifesto. Cambridge University Press.

Frank, A. G. (1967). Capitalism and Underdevelopment in Latin America. Monthly Review Press.

Friedmann, J. (1992). Empowerment: The Politics of Alternative Development. Blackwell.

Post a Comment

Previous Post Next Post